FITRIA DEVI ANGGRAINI DAN NI LUH
PUTU HARIASTUTI
ABSTRAK
minimal 1 meter dari bibir galian
Risiko menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dalam setiap aktivitas perusahaan sehingga cara terbaik
yang dapat dilakukan adalah
mengantisipasi dan melindungi diri terhadap risiko. Permasalahan yang
terjadi pada PT BALI GRAHA SURYA
adalah pada proses welding dan welding inspection, stringing pipa,
dan trenching pipa di mana risiko
yang terjadi memengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja (K3)karyawan dan juga
memengaruhi lama waktu penyelesaian proyek
Dari hasil penelitian didapatkan
bahwa risiko yang ada pada proses welding dan welding
inspection adalah risiko terbakar,
bahaya sinar UV dari pengelasan, bahaya panas, bahaya percikan api las,
kejatuhan pipa dan tersetrum mesin
las dengan total indeks risiko sebesar 9,324. Stringing pipa memiliki
risiko tertimpa dan terjepit pipa
dengan total indeks risiko sebesar 8,481 dan Trenching pipa memiliki risiko tanah
longsor pada bantaran dengan total indeks risiko sebesar 8,092. Tindakan untuk
penanganan risiko tersebut adalah mewajibkan pekerja menggunakan APD, memeriksa
semua kondisi isolasi untuk mengetahui kondisi alat yang akan digunakan,
bekerja sesuai dengan SOP, memasang dinding pengaman galian, dan penempatan
tanah bekas galian
PENDAHULUAN
Risiko adalah probabilitas suatu
kejadian yang mengakibatkan kerugian ketika kejadian
itu terjadi selama periode tertentu
dan pengaruhnya dapat diukur dengan mengalikan
frekuensi kejadian dan dampak dari
kejadian tersebut (Mills, 2001). Risiko merupakan
peristiwa tidak pasti yang bila terjadi
memiliki pengaruh negatif terhadap minimal satu tujuan
proyek yaitu waktu, biaya, ruang
lingkup dan mutu. Sedangkan manajemen risiko menurut
Standards Australia/Standards New
Zealand (2005), merupakan suatu proses yang logis dan
sistematis dalam mengidentifikasi,
menganalisa, mengevaluasi, mengendalikan, mengawasi, dan
mengkomunikasikan risiko yang
berhubungan dengan segala aktivitas, fungsi atau proses
dengan memaksimumkan kesempatan yang
ada
Probowo dan Singgih (2009) serta Prihandono
dan Wiguna (2010) menyatakan tujuan utama
manajemen risiko adalah meminimalkan
dampak kerugian yang diakibatkan dari suatu risiko pada
organisasi atau proyek. Semakin
tinggi kegiatan operasional yang dilakukan, maka semakin tinggi pula tingkat
risiko yang dapat terjadi. Kedua penelitian tersebut melakukan penilaian risiko
(R) menggunakan rumus probabilitas risiko yang terjadi (P) dikalikan dampak
risiko yang terjadi (I). Selanjutnya prioritas risiko dan tindakan penanganan
dalam usaha meminimalisasi
risiko diperoleh dengan menggunakan
matriks probabilitas-dampak dan
Root Cause Analysis(RCA). Sedangkan
penelitian yang dilakukan oleh
METODE
lur pemecahan masalah sangat
diperlukan dalam usaha mendukung proses penelitian. Adapun tahapan penelitian
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.Tahap persiapan,
m e r u p a k a n tahap peng umpulan
informasi untuk mengidentifikasi permasalahan, penentuan
tujuan, studi literatur, dan studi
lapangan
2.Tahap Pengumpulan Data,
pada tahap ini dilakukan pengumpulan
informasi dan data-dataawal dari objek penelitian melalui
proses wawancara dan brainstorming dengan
pihak manajemen selaku responden
3.Tahap Pengolahan Data,
tahap inidilakukan setelah variabel
risiko yang relevan terhadap proyek diperoleh sehingga
dapat dilanjutkan dengan proses
penilaian untuk menentukan prioritas risiko yang
akan dikelola kemudian. Tahapan
pengolahan data yang dilakukan meliputi penilaian probabilitas dan dampak dari
segi K3, waktu dan biaya, mengingat ketiga kriteria ini sangat signifikan
berpengaruh terhadap faktor risiko yang terjadi (Prihandono dan Wiguna, 2010)
4.Tahap Analisis Data,
sebagai tahap selanjutnya adalah
melakukan analisis pengklasifikasian perlakuan terhadap
risiko serta usulan perbaikan
terhadap masing-masing risiko kegagalan pada
proses pemasangan pipa gas sehingga
dapat mengurangi atau menghilangkan kegagalan proses yang terjadi. Pendekatan
yang digunakan dalam analisis data mengikuti
pendekatan yang digunakan oleh AS/NZS
4360:2005 yaitu Australian/New ZealandRisk
HASIL DAN PEMBAHASAN
PT BALI GRAHA SURYA merupakan salah satu
perusahaan di Surabaya yang bergerak dalam bidang konstruksi perpipaan minyak dan
gas bumi. Spesialisasi bidang usaha PT BALI GRAHA SURYA adalah mekanikal dan elektrikal.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Prabowo dan Singgih(2009) yang selanjutnya diolah dengan menggunakan skala
Guttman maka diperoleh variabel-variabel risiko yang relevan pada proyek
pemasangan instalasi pipa gas. Dari 37 variabel risiko yang dianalisis dalam
kuesioner pendahuluan, terdapat dua variabel risiko yang tidak relevan yaitu
variabel hambatan dari masyarakat yang mengarah ke anarkis dan faktor
lingkungan yang mungkin terjadi pada saat pembuangan air hydrotest. Responden
yang dalam hal ini adalah karyawan dan pihak manajemen proyek, juga menambahkan
variabel risiko yang mungkin dapat terjadi pada proyek. Tambahan variabel
risiko dari responden adalah adanya bahaya gangguan pernapasan yang masuk ke
dalam sumber bahaya pengecatan. Hasil dari kuesioner pendahuluan akan dipakai sebagai
variabel dalam kuesioner utama untuk mendapatkan nilai probabilitas dan dampak
dari setiap variable
SIMPULAN
Variabel-variabel risiko yang
relevan terhadap pelaksanaan proyek konstruksi pipa gas pada PT BALI GRAHA
SURYA sejumlah 36 variabel risiko. Terdapat 3 variabel risiko yang paling dominan
memengaruhi kegiatan konstruksi yaitu (1) bahaya terbakar, sinar UV dari
pengelasan, bahaya panas, bahaya percikan api las, bahaya kejatuhan pipa, fume atau
asap logam, tersetrum mesin las; (2) risiko tertimpa dan terjepit pipa pada proses
stringing pipa; (3) kondisi tanah yang labil
yang mengakibatkan keruntuhan pada
bantaran sungai. Berdasarkan atas variabel dominan yang dipilih untuk
diprioritaskan, maka solusi untuk mengendalikan risiko adalah mewajibkan pekerja
untuk mengg unakan A PD yang sesuai, memeriksa semua kondisi isolasi untuk mengetahui
kondisi alat yang akan digunakan, bekerja sesuai dengan SOP, memasang dinding pengaman
galian, dan penempatan tanah
bekas galian minimal 1 meter dari
bibir galian. Beberapa rekomendasi perbaikan berkelanjutan yang dapat diusulkan
kepada pihak manajemen adalah memberikan peraturan yang tegas dan jelas
terhadap para pekerja agar selalu memakai APD yang sesuai serta mematuhi
prosedur yang ada serta pengawasan terhadap pelaksanaan pemasangan pipa tetap
dipertahankan agar tidak terjadi kesalahan yang dapat berakibat fatal bagi pekerja
dan perusahaan.