Jumat, 19 Desember 2014

ANALISIS RISIKO PEMASANGAN PIPA BAJA PADA PT BALI GRAHA SURYA



FITRIA DEVI ANGGRAINI DAN NI LUH PUTU HARIASTUTI

ABSTRAK
minimal 1 meter dari bibir galian
Risiko menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap aktivitas perusahaan sehingga cara terbaik
yang dapat dilakukan adalah mengantisipasi dan melindungi diri terhadap risiko. Permasalahan yang
terjadi pada PT BALI GRAHA SURYA adalah pada proses welding dan welding inspection, stringing pipa,
dan trenching pipa di mana risiko yang terjadi memengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja (K3)karyawan dan juga memengaruhi lama waktu penyelesaian proyek
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa risiko yang ada pada proses welding dan welding
inspection adalah risiko terbakar, bahaya sinar UV dari pengelasan, bahaya panas, bahaya percikan api las,
kejatuhan pipa dan tersetrum mesin las dengan total indeks risiko sebesar 9,324. Stringing pipa memiliki
risiko tertimpa dan terjepit pipa dengan total indeks risiko sebesar 8,481 dan Trenching pipa memiliki risiko tanah longsor pada bantaran dengan total indeks risiko sebesar 8,092. Tindakan untuk penanganan risiko tersebut adalah mewajibkan pekerja menggunakan APD, memeriksa semua kondisi isolasi untuk mengetahui kondisi alat yang akan digunakan, bekerja sesuai dengan SOP, memasang dinding pengaman galian, dan penempatan tanah bekas galian

PENDAHULUAN
Risiko adalah probabilitas suatu kejadian yang mengakibatkan kerugian ketika kejadian
itu terjadi selama periode tertentu dan pengaruhnya dapat diukur dengan mengalikan
frekuensi kejadian dan dampak dari kejadian tersebut (Mills, 2001). Risiko merupakan
peristiwa tidak pasti yang bila terjadi memiliki pengaruh negatif terhadap minimal satu tujuan
proyek yaitu waktu, biaya, ruang lingkup dan mutu. Sedangkan manajemen risiko menurut
Standards Australia/Standards New Zealand (2005), merupakan suatu proses yang logis dan
sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi, mengendalikan, mengawasi, dan
mengkomunikasikan risiko yang berhubungan dengan segala aktivitas, fungsi atau proses
dengan memaksimumkan kesempatan yang ada
Probowo dan Singgih (2009) serta Prihandono dan Wiguna (2010) menyatakan tujuan utama
manajemen risiko adalah meminimalkan dampak kerugian yang diakibatkan dari suatu risiko pada
organisasi atau proyek. Semakin tinggi kegiatan operasional yang dilakukan, maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang dapat terjadi. Kedua penelitian tersebut melakukan penilaian risiko (R) menggunakan rumus probabilitas risiko yang terjadi (P) dikalikan dampak risiko yang terjadi (I). Selanjutnya prioritas risiko dan tindakan penanganan dalam usaha meminimalisasi
risiko diperoleh dengan menggunakan matriks probabilitas-dampak dan
Root Cause Analysis(RCA). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
METODE
            lur pemecahan masalah sangat diperlukan dalam usaha mendukung proses penelitian. Adapun tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.Tahap persiapan,
m e r u p a k a n tahap peng umpulan informasi untuk mengidentifikasi permasalahan, penentuan
tujuan, studi literatur, dan studi lapangan
2.Tahap Pengumpulan Data,
pada tahap ini dilakukan pengumpulan informasi dan data-dataawal dari objek penelitian melalui
proses wawancara dan brainstorming dengan pihak manajemen selaku responden
3.Tahap Pengolahan Data,
tahap inidilakukan setelah variabel risiko yang relevan terhadap proyek diperoleh sehingga
dapat dilanjutkan dengan proses penilaian untuk menentukan prioritas risiko yang
akan dikelola kemudian. Tahapan pengolahan data yang dilakukan meliputi penilaian probabilitas dan dampak dari segi K3, waktu dan biaya, mengingat ketiga kriteria ini sangat signifikan berpengaruh terhadap faktor risiko yang terjadi (Prihandono dan Wiguna, 2010)
4.Tahap Analisis Data,
sebagai tahap selanjutnya adalah melakukan analisis pengklasifikasian perlakuan terhadap
risiko serta usulan perbaikan terhadap masing-masing risiko kegagalan pada
proses pemasangan pipa gas sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan kegagalan proses yang terjadi. Pendekatan yang digunakan dalam analisis data mengikuti
pendekatan yang digunakan oleh AS/NZS 4360:2005 yaitu Australian/New ZealandRisk


HASIL DAN PEMBAHASAN
            PT BALI GRAHA SURYA merupakan salah satu perusahaan di Surabaya yang bergerak dalam bidang konstruksi perpipaan minyak dan gas bumi. Spesialisasi bidang usaha PT BALI GRAHA SURYA adalah mekanikal dan elektrikal. Berdasarkan hasil penelitian yang  dilakukan oleh Prabowo dan Singgih(2009) yang selanjutnya diolah dengan menggunakan skala Guttman maka diperoleh variabel-variabel risiko yang relevan pada proyek pemasangan instalasi pipa gas. Dari 37 variabel risiko yang dianalisis dalam kuesioner pendahuluan, terdapat dua variabel risiko yang tidak relevan yaitu variabel hambatan dari masyarakat yang mengarah ke anarkis dan faktor lingkungan yang mungkin terjadi pada saat pembuangan air hydrotest. Responden yang dalam hal ini adalah karyawan dan pihak manajemen proyek, juga menambahkan variabel risiko yang mungkin dapat terjadi pada proyek. Tambahan variabel risiko dari responden adalah adanya bahaya gangguan pernapasan yang masuk ke dalam sumber bahaya pengecatan. Hasil dari kuesioner pendahuluan akan dipakai sebagai variabel dalam kuesioner utama untuk mendapatkan nilai probabilitas dan dampak dari setiap variable


SIMPULAN
            Variabel-variabel risiko yang relevan terhadap pelaksanaan proyek konstruksi pipa gas pada PT BALI GRAHA SURYA sejumlah 36 variabel risiko. Terdapat 3 variabel risiko yang paling dominan memengaruhi kegiatan konstruksi yaitu (1) bahaya terbakar, sinar UV dari pengelasan, bahaya panas, bahaya percikan api las, bahaya kejatuhan pipa, fume atau asap logam, tersetrum mesin las; (2) risiko tertimpa dan terjepit pipa pada proses stringing pipa; (3) kondisi tanah yang labil
yang mengakibatkan keruntuhan pada bantaran sungai. Berdasarkan atas variabel dominan yang dipilih untuk diprioritaskan, maka solusi untuk mengendalikan risiko adalah mewajibkan pekerja untuk mengg unakan A PD yang sesuai, memeriksa semua kondisi isolasi untuk mengetahui kondisi alat yang akan digunakan, bekerja sesuai dengan SOP, memasang dinding pengaman galian, dan penempatan tanah
bekas galian minimal 1 meter dari bibir galian. Beberapa rekomendasi perbaikan berkelanjutan yang dapat diusulkan kepada pihak manajemen adalah memberikan peraturan yang tegas dan jelas terhadap para pekerja agar selalu memakai APD yang sesuai serta mematuhi prosedur yang ada serta pengawasan terhadap pelaksanaan pemasangan pipa tetap dipertahankan agar tidak terjadi kesalahan yang dapat berakibat fatal bagi pekerja dan perusahaan.


ANALISA KELAYAKAN INVESTASI PERBAIKAN SARANA PRODUKSI PADA HOME INDUSTRI KERUPUK BAWANG



HERDIANA DYAH SUSANTI


ABSTRAK
          Kerupuk bawang mempunyai keunikan yaitu adonan setengah matangnya yang kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis,
hasil potongan bisa bagus hanya dengan menggunakan slicer. Para pelaku home industry banyak yang mengeluh bahwa keuntungan hasil produksi mereka tidak dapat maksimal. Berdasarkan aspek pasar, penggantian sarana produksi pada proses pemotongan dari pisau konvensional dengan menggunakan mesin potong baru di UD. Output pisau konvensional = 60 Kg per hari dan mesin potong kerupuk yang baru = 100 Kg per hari. Begitu juga dari aspek keuangan dinilai layak karena dengan mesin potong yang baru diperoleh NPV Rp. 514.604.751, IRR 65,88%, dan
DPP 2 tahun 11 bulan. Penggantian sarana produksi pada proses pemotongan layak karena jumlah penghasilan yang
diperoleh lebih besar dibandingkan biaya untuk investasi program dengan ROI sebesar 1, 44.


PENDAHULUAN

          Salah satu home industry yang saat ini terus berkembang dan persaingannya semakin ketat adalah home industry kerupuk, khususnya kerupuk bawang. Home industrykerupuk yang tidak bisa bersaing untuk memaksimalkan keuntungan hasil produksi mereka akan mati, karena persaingan di dunia industri hanya akan didominasi dengan pelaku yang kreatif untuk meningkatkan keuntungan hasil produksi mereka. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan sarana produksi untuk peningkatan kapasitas produksi dan melakukan studi kelayakan dengan menganalisis aspek pasar, teknis, dan keuangan.

METODE
        Tahapan penelitian dimulai dari melakukan studi kelayakan dari aspek pasar untuk mencari pasar potensial (PP) dan mencari pangsa pasar UD. Kalirejo.setelah penentuan pasar maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki proses produksi dengan dengan merancang mesin alternatif pemotong kerupuk yang baru. Berdasarkan usulan tersebut, melakukan studi kelayakan dari aspek teknik dengan menganalisa output yang dihasilkan dari mesin alternatif pemotong kerupuk dan pisau tangan konvensional dengan menggunakan metode time study
Dan langkah selanjutnya berdasarka studi kelayakan dari aspek ekonomi dengan membandingkan MARR dan IRR
Metode IRR langsung mengambil perkiraan internal interest rate(i) dengan net cash flowyang umum atau memenuhi pada akhir umum proyek dan diinvestasikan kembali (dipinjamkan) diluar perusahaan. Umumnya semuacash outflow dihitung/dikonversikan ke periode 0 (awal proyek) juga pada bunga yang ditentukan
 (internal rate) sebesar i%. Sementara semua cash inflow dikonversikan ke periode n (akhir proyek) juga  pada bunga sebesar i%.
Bentuk umum persamaan IRR
adalah menggunakan i% dengan bentuk sebagai berikut:
NPV1 - 0
IRR = R1 +(R2 - R1)
NPV1 – NPV2
....................(1)
Di mana:IRR=Internal rate of return
R1=suku bunga trial1
R2=suku bungan trial
2NPV1=Net present value trial
NPV2=Net present value trial 2
Metode discounted payback period adalah perhitungan atau penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup initial invesmentdari suatu proyek dengan menggunakan net cash flow yang dihasilkan oleh proyek tersebut (Umar, 2005). Dengan mempertimbangkan nilai waktu dari uang dan nilai cash flow
secara satu per satu dari periode maka metode discounted payback period dirumuskan sebagai berikut:

HASIL DAN PEMBAHASAN
     Kapasitas  UD.kalirejo dengan Menggunakan Pisau Konvensional
Proses produksi kerupuk bawang di UD. Kalirejo dimulai dari menimbang bahan-bahan, menghaluskan bawang dengan menggunakan mesin yang dipakai memiliki putaran yang konstan (jenis motor AC) sebesar 1500 rpm (putaran per menit). Untuk selanjutnya putaran ini didefinisikan sebagai N0 untuk memudahkan perhitungan. Dengan perbedaan diameter pulley yang dipakai secara berpasangan, maka putaran tersebut akan tereduksi menjadi lebih rendah, sesuai dengan perbandingan diameter pulley
                                                                                      
Peningkatan Kapasitas Produksi Kerupuk Bawang dengan Penggantian Sarana Produksi
Hal ini disebabkan motor mesin potong yang baru maka kapasitas per hari UD. Kalirejo adalah 18 x 6 = 108 kg per hari. Jadi output kerupuk bawang dengan menggunakan pisau potong konvensional sebesar 60 Kg per hari dan output kerupuk bawang dengan menggunakan mesin potong kerupuk yang baru sebesar 100 Kg per hari karena kapasitas alat untuk memasak kerupuk hanya 100 Kg.
SIMPULAN
              Berdasarkan aspek pasar, penggantian sarana produksi pada proses pemotongan di UD. Kalirejo
dinilai layak karena dari data permintaan yang ada saat ini cenderung mengalami kenaikan yang
signifikan. Berdasarkan aspek teknik, mesin potong kerupuk yang baru dinilai layak karena
output yang dihasilkan dengan menggunakan mesin potong yang baru lebih besar dari output menggunakan pisau konvensional. Begitu juga dari aspek keuangan, mesin potong kerupuk yang baru dinilai layak
karena NPV, IRR, Discounted Payback Period yang dihasilkan dengan menggunakan mesin potong yang
baru lebih besar dari NPV, IRR, Discounted Payback Period menggunakan pisau konvensional. Investasi
dengan mengganti pisau konvensional dengan mesin potong kerupuk yang baru disimpulkan layak karena menghasilkan ROI sebesar 1




http://www.atep-afia.net/2013/12/ttki-kk-tugas-m12-ringkasan-artikel.html